Naufal Dzaki Hisyam 1, Fuad Al-Hilmi Al-Mahbubi 2,Syahnagra Fahrezi Mahdi3, Ulfi Usykuriyah Khoiry4
1,2,3,4 Sekolah Tinggi Islam Al Amanah Sidoarjo
ulfikhoiry12@gmail.com
Abstrak
Dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi, lembaga, bahkan suatu negara dibutuhkan pemimpin yang dapat menggerakkan bawahannya untuk bertindak sesuai tujuan yang akan dicapai. Islam sebagai agama yang paripurna, tidak hanya mengatur dimensi hubungan manusia dengan tuhannya tapi juga aspek hubungan dengan sesama manusia, maka dari itu Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menjadi uswah hasanah bagi umat manusia. Rasulullah sebagai role model dalam kepemimpinan yang mencerminkan integritas, keadilan, kesabaran serta kepedulian terhadap keadilan sosial. tujuan penelitian ini ingin memberikan konribusi konseptual bagi pengembangan kepemimpinan Islam pada masa kini. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengkaji prinsip utama kepemimpinan Nabi Muhammad SAW: Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis literatur. Pendekatan analisis literatur adalah metode yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menyintesis hasil penilitian dan pemikiran para peneliti dan praktisi. Dalam penelitian ini, peneliti mencari dan mengumpulkan beberapa jurnal yang berkaitan dengan kepemimpinan Nabi Muhammad, menganalisa dan selanjutnya merumuskan temuan secara komprehensif untuk mencapai hasil yang memuaskan dan sesuai dengan harapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad SAW shiddiq, amanah, tabligh, fathonah dapat menjadi teladan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan. Kesimpulan dari penilitian ini bahwa prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad dapat diimplimentasikan pada pemimpin masa kini.
Kata Kunci: Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah
Abstract
The success of an organization, institution, or even a country requires leaders who are capable of mobilizing their subordinates to act in accordance with the goals to be achieved. Islam, as a comprehensive religion, not only regulates the relationship between human beings and their Creator but also governs relationships among human beings. Therefore, Allah sent Prophet Muhammad SAW as an uswah hasanah (excellent example) for humanity. As a role model in leadership, the Prophet Muhammad SAW demonstrated integrity, justice, patience, and concern for social justice. This study aims to provide a conceptual contribution to the development of Islamic leadership in the contemporary era. Therefore, this study examines the core principles of Prophet Muhammad’s leadership: Siddiq, Amanah, Tabligh, and Fatanah. This study employs a qualitative method using a literature analysis approach. Literature analysis is a systematic method for identifying, evaluating, and synthesizing the findings and ideas of researchers and practitioners. In this study, the researchers collected several scholarly articles related to the leadership of Prophet Muhammad SAW, analyzed the relevant literature, and subsequently synthesized the findings comprehensively to obtain meaningful and relevant results. The findings indicate that the leadership principles of Prophet Muhammad SAW—Siddiq, Amanah, Tabligh, and Fatanah—can serve as exemplary values for humanity in conducting their lives. This study concludes that the leadership principles exemplified by Prophet Muhammad SAW can be implemented by contemporary leaders.
Keywords : Prophet Muhammad’s Leadership, Siddiq, Amanah, Tabligh, Fatanah.
- PENDAHULUAN
Manusia dimuka bumi ini diciptakan oleh Allah selain untuk beribadah tapi juga untuk menjadi pemimpin di bumi atau khalifah fiil ‘ardh. Dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi, lembaga, bahkan suatu negara dibutuhkan pemimpin yang dapat menggerakkan bawahannya untuk bertindak sesuai tujuan yang akan dicapai. Ruang lingkup kepemimpinan sangat luas yang menyangkut keseluruhan anggota yang berkaitan dengan keadaan organisasi dalam pencapaian tujuan. Seorang pemimpin harus dapat meyakinkan orang lain dalam mengusahakan untuk mencapai tujuan disertai semangat penuh.[1]
Islam sebagai agama yang paripurna, tidak hanya mengatur dimensi hubungan manusia dengan tuhannya tapi juga aspek hubungan dengan sesama manusia, maka dari itu Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menjadi uswah hasanah bagi umat manusia. Dalam mengemban ajaran islam dan nabi yang diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam rahmatan lil alamin. Nabi Muhammad SAW mempunyai misi dalam menyebarkan dakwah untuk menyeru kepada tauhid dan dikenal sebagai figur central yaitu sebagai nabi dan rasul, pemimpin umat, pemimpin keluarga dan posisi lainnya. [2] Nabi Muhammad SAW adalah sosok karismatik dan akhlak yang sempurna dan mempunyai pengaruh besar dalam perubahan hal religius, moral dan politik umat manusia. Dengan begitu besar pengaruh beliau sampai dalam buku Rangking of The Most Influental yang ditulis Michael Hart menobatkan Nabi sebagai manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia.[3]
Rasulullah sebagai role model dalam kepemimpinan yang mencerminkan integritas, keadilan, kesabaran serta kepedulian terhadap keadilan sosial. Hal ini memberikan inspirasi yang konkret mengenai seorang pemimpin yang seharusnya.[4] Berbeda dengan pemimpin sekarang yang haus akan kedudukan dan mengedepankan keinginan pribadi untuk memperkaya diri. Tidak heran bahwa Nabi Muhammad menjadi teladan di semua sisi kehidupan, cahaya dan pengaruhnya dirasakan bukan hanya semasa hidupnya tapi sampai beliau wafat dan akhir zaman.[5] Bahkan dalam catatan sejarah beliau diakui sebagai seorang pemimpin yang tidak hanya sukses dalam menciptakan komunitas Madinah berbudaya tetapi juga rasa tanggung jawab dalam mengelola kekuasaan. Saat ini tantangan kepemimpinan yang tidak adil, krisis moral, dan penyalagunaan wewenang dapat meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad.[6]
Gaya kepemimpinan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad secara kualitas sangat sukses berasal dari prinsip beliau dalam memimpin umat dengan karakter dan sifat beliau yaitu: Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Dan meniru sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dalam mengemban suatu kepemimpinan akan menghasilkan kesuksesan, dengan kata lain untuk mecapai tujuan yang diinginkan hendaknya seorang pemimpin meneladani prinsip utama Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Banyak penelitian terkini yang membahas tentang kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dari berbagai perspektif. Seperti kajian oleh Renaldi Habib Baskara tentang nilai kepemimpinan Nabi Muhammad yang dapat diimplimentasikan dalam pendidikan islam.[7] Studi lain oleh Sayfulloh juga membahas tentang fondasi kepemimpinan dan pemerintahan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negara.[8] Selain itu, kajian oleh Muhammad Rizki Akbar tentang karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW berbasis sifat kenabian.[9]
Melihat dari uraian diatas tentang kepemimpinan dan Nabi Muhammad sebagai teladan pemimpin dan semua sisi kehidupan umat sepanjang masa. Kaum muslim harus belajar dari kehiudpan Nabi Muhammad sebagai servant-Leader yang mengutamakan aspek melayani umat manusia.[10] Maka dari itu tujuan penelitian ini ingin memberikan konribusi konseptual bagi pengembangan kepemimpinan Islam pada masa kini. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengkaji prinsip utama kepemimpinan Nabi Muhammad SAW: Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah.
- METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis literatur. Pendekatan analisis literatur adalah metode yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menyintesis hasil penilitian dan pemikiran para peneliti dan praktisi. Pendekatan ini juga dikenal sebagai literature review atau pustaka yang sekiranya dibuat sebagai acuan peneliti untuk melakukan penelitian. Data dikumpulkan dari berbagai sumber seperti literatur akademik yang membahas prinsip kepemimpinan Rasulullah SAW. Dalam penelitian ini, peneliti mencari dan mengumpulkan beberapa jurnal yang berkaitan dengan kepemimpinan Nabi Muhammad, menganalisa dan selanjutnya merumuskan temuan secara komprehensif untuk mencapai hasil yang memuaskan dan sesuai dengan harapan.
- HASIL DAN PEMBAHASANPengertian Kepemimpinan dalam Perspektif Islam
Secara umum kepemimpinan adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mengajak, mendorong, membimbing, menggerakkan dan mempengaruhi agar dapat melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Noor Syam kepemimpinan adalah kegiatan menyeluruh untuk mempengaruhi serta menggerakkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan tertentu atau pemberian bimbingan dari pimpinan atas teladan, pemberian jalan yang mudah guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.[11]
Pemimpin sejatinya mempunyai ikatan erat dengan tuhannya. Jika seorang pemimpin menerapkan keadilan maka nikmat bagi rakyatnya tapi sebalinya, jika pemimpin berlaku dzalim maka dosa besar bagi dia pribadi dan penunda keberkahan dari Allah untuk dia pribadi dan ujian untuk rakyatnya. Selaras dengan sabda Nabi SAW:
“Pemimpin adalah bayangan Allah SWT dimuka bumi. Kepadanya berlindung orang-orang yang teraniaya dari hamba-hamba Allah, jika ia berlaku adil maka baginya ganjaran, dan bagi rakyat hendaknya bersyukur. Sebaliknya apabila ia curang (dzalim) maka niscaya dosalah baginya dan rakyatnya hendaknya bersabar. Apabila para pemimpin curang maka langit tidak akan menurunkan berkahnya. Apabila zina merajalela, maka kefakiran dan kemiskinan pun akan merajalela.” (HR. Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar).[12]
Dalam Islam kepemimpinan memiliki landasan yang kuat dengan konsep imamah dan ri’ayah. Ini bukan hanya sebuah konsep atau sekedar posisi administratif, tapi juga bentuk pertanggungjawaban seorang pemimpin pada Allah dan komunitas yang dipimpin. Dan kepemimpinan atau khalifah mempunyai makna bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab kepemimpinan pada diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.[13] Dapat disimpulkan bahwa pemimpin dibagi menjadi tiga, yaitu: a. Self-leadership atau kemampuan untuk memimpin diri sendiri, b. Team leadership atau kemampuan dalam memimpin orang lain, c. Kemampuan memimpin suatu organisasi dalam menjalankan visi misi organisasi untuk mencapai tujuan yang sudah disepakati.[14]
Kepemimpinan dalam islam merupakan konsep yang kaya akan nilai-nilai etis dan moral yang bertanggung jawab dalam kesejahteraan masyarakat. Hal ini mengacu pada nilai-nilai moral yang harus dimiliki seorang pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola dan mengambil keputusan.[15] Dalam hal ini sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin menurut islam harus menyeluruh dan berlandaskan pada prinsip-prinsip iman, keadilan, serta tanggung jawab. Adapun karakter seorang pemimpin harus yang adil, jujur, serta menjadi teladan. Dan hal ini disebutkan dalam hadits bahwa:
“setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR. Bukhari dan Muslim).”[16]
Adapun prinsip-prinsip dari dasar hukum politik yang sudah diuraikan oleh pakar politik dan juga hukum islam melihat prinsip siyasah dalam menyelenggarakan suatu negara terdapat berbagai macam yaitu:
- Prinsip kedaulatan, yakni kedaulatan yang utuh hanya milik Allah SWT dan diamanahkan kepada manusia selaku khalifah di muka bumi.
- Prinsip keadilan, yakni kunci utama dalam menyelenggaran suatu negara untuk menghendaki setiap warga sama kedudukannya didepan hukum.
- Prinsip musyawarah dan ijma’, yakni pengambilan keputusan untuk urusan kemasyarakatan harus ditegakkan berdasarkan persetujuan rakyat melalui pemilihan secara adil, jujur, dan amanah.
- Prinsip persamaan, yakni Warga negara yang non-Muslim memiliki hak-hak sipil yang sama, karena dalam negara ideologis setiap kepemimpinan hars menjunjung tinggi syari’ah.
- Prinsip hak dan kewajiban negara dan rakyat, yakni memenuhi segala hak warga dari segi keamanan, harga diri dan harta benda, kemerdekeaan mengeluarkan pendapat, hak mendapatkan layanan hukum secara adil, mendapatkan pendidikan yang layak, pelayanan medis dan kesehatan.
- Prinsip amar ma’ruf nahi munkar yakni, check and balancing dalam sistem politik islam karena seorang pemimpin bukan orang yang suci dan sangat mungkin untuk dikritisi dan dinasehati. Adapun sistem ini terlembaga dalam Ahlul Hilli wal ‘aqdi, wilayat al Hisbah serta wilayat al Qadha’.[17]
- Prinsip Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW
Sejarah dunia mencatat bahwa Rasulullah adalah pemimpin yang luar biasa dan manajer hebat. Keseharian hidupnya diisi dengan kebaikan yang menjadi teladan bagi umat manusia dalam segala aspek kehidupan. Beliau juga merupakan seorang pemimpin yang adil dan jujur, serta memimpin tidak hanya dengan perkataan tetapi juga dengan tindakan dan keteladanan. Nabi Muhammad SAW dikenal dan dihormati sebagai pemimpin yang unggul dalam berbagai aspek termasuk keluarga, pendidikan, akhlak mulia, semangat juang yang tinggi, fokus kehidupan akhirat serta rasa kemanusiaan yang mendalam.[18]
Rasulullah selaku pemimpin umat yang menaungi dari bawah hingga atas dan berbagai budaya sehingga menjadi satu masyarakat/ ummatan wahidatan yang beriman dan bertakwa. Contohnya dalam peperangan mengalahkan kaum kafir Quraisy bukan karena mukjizat nabi, namun Rasulullah berhasil menanamkan keimanan, ketakwaan, kesetiaan dan semangat juang untuk membela kebenaran dan mempertahankan hak selain untuk memperoleh bantuan Allah SWT.[19]
Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dapat digolongan sebagai kepemimpinan situasional dikarenakan Nabi Muhammad SAW menererapkan beberapa tipe kepemimpinan berkaitan dengan situasi yang sedang dihadapi. Dalam hal ini dapat dilihat beberapa tipe kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai berikut:
- Kepemimpinan Otoriter
Dapat digambarkan kepemimpinan otoriter adalah mendikte, membuat keputusan sepihak dan membatasi pratisi-pratisi bawahan. Tetapi dalam perwujudan kepemimpinan Nabi Muhammad yang dimaksud dengan otoriter adalah sikap tegas saat menghadapi kaum kafir, tegas dalam memberikan hukuman, dan tegas dalam melaksanakan aturan dan perintah yang telah diwahuyakan oleh Allah SWT.
- Kepemimpinan Laissez Faire
Digambarkan bahwa kepemimpinan laissez faire yang memberikan kesempatan untuk menyelesaikan suatu masalah dengan cara yang menurut mereka pantas. Hal ini dapat dilihat dari Nabi Muhammad yang tidak memaksa seseorang untuk ikut dengan ajaran yang beliau sampaikan tetapi tetap memberikan peringatan bagi yang angkuh menolak dan memberikan berita gembira bagi yang menerima seruannya. Dalam hal ini beliau ingin menumbuhkan tanggung jawab dari pribada masing-masing.
- Kepemimpinan Demokratis
Dapat digambarkan bahwa kepemimpinan demokratis adalah pemimpin yang melibatkan bawahannya dalam membuat suatu keputusan dan mendelegasikan wewenang. Pada kepemimpinan Nabi Muhammad SAW beliau kerap kali mengadakan musyawarah dengan para sahabat untuk menyelesaikan suatu masalah yang belum ada wahyu nya dari Allah dan menjadikan musyawarah ini sebagai tempat bertukar pikiran dan setiap orang didalamnya mengemukakan pendapat.[20]
Dalam menjalankan kepemimpinan Rasulullah mempunyai prinsip yang dilandasi oleh sifat wajib Nabi Muhammad SAW yaitu:
- Shiddiq
Shiddiq berarti integritas atau kejujuran. Beliau dikenal sebagai sosok yang selalu berkata benar dan menjunjung integritas. Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau mendapat julukan “Al-Amin” yang artinya dapat dipercaya di kalangan orang Mekkah. Sebagaimana fakta dan realita perkataan nya yang selalu benar, baik kepada tuhan, diri sendiri maupun kepada orang lain menjadikannya dihormati, dicintai, dan dipercayai oleh orang lain. Dan karena kejujuran ini Rasulullah dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya. [21]
- Amanah
Amanah berarti dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Hal ini dapat dibuktikan dengan Nabi Muhammad SAW yang mendukung dalam menyebarluaskan risalah yang diamanahkan kepadanya oleh Allah SWT. Beliau juga menganggap amanah sebagai prinsip dasar dalam sebuah kepemimpinan. Amanah meliputi menjaga kerahasiaan, melaksanakan tugas dengan baik, dan mengutamakan kesejahteraan orang lain di atas kepeningan pribadi. Contoh dalam penerapan prinsip amanah Nabi SAW adalah saat piagam Madinah dimana beiau mengatur hak seluruh warga tanpa membedakan latar belakang agama, suku, atau status sosial.
- Fathonah
Fathonah berarti kecerdasan atau kebijaksanaan. Hal ini dapat dilihat dari Nabi Muhammad Saw yang dapat menyelesaikan masalah yang rumit dengan solusi yang tepat dan bijaksana dalam mengelola umatnya, melawan musuh, dan merumuskan strategi. Kecerdasan yang tertanam dalam diri Nabi Muhammad SAW bukan hanya kecerdasan intelektual tetapi juga kecerdasan spiritual. Contoh dari kecerdasan Nabi SAW adalah ketika hijrah dimana beliau mampu merencanakan perpindahan umat secara aman dan teroganisir, serta ketika perjanjian Hudaibiyah beliau dapat memadukan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
- Tabligh
Tabligh berarti menyampaikan atau komunikatif. Hal ini dapat dibuktikan dengan penyampaian wahyu dan pesan Allah kepada umat melalui Nabi Muhammad secara tepat. Penyampaian ajaran Allah dengan cara yang mudah dipahami, diterapkan, dan relevan bagi umatnya terkhusus pada saat penyampaian wahyu Allah beliau akan lebih berhati-hati dalam perkataan maupun dalam kebijakan. Dalam strategi komunikasi ini beliau sangat memilih bahasa yang mudah dipahami, penyampaian pesan sesuai dengan konteks serta keteladanan yang konsisten dari pesan yang disampaikan.[22]
Melalui prinsip dasar kepemimpinan Rasulullah dalam memimpin para umatnya berikut kunci kesuksesan kepemimpinan Rasulullah:
- Segala hal yang nabi lakukan dan putuskan untuk umatnya semua melalui bimbingan wahyu yang berisi kebenaran.
- Apa yang beliau sampaikan kepada umatnya tidak hanya perkataan saja tetapi juga konsisten dalam melakukan apa yang beliau sampaikan. Dan segala hal yang diperintahkan Nabi Muhammad itu juga sebagai perintah bagi dirinya, dan keluarganya.
- Nabi muhammad sangat terbuka dengan pendapat dari para sahabat untuk dimusyawarahkan dalam menentukan suatu hukum yang belum tertulis secara jelas dalam Al-Qur’an.
- Nabi Muhammad memiliki rasa yang sama dengan umatnya, saat rakyatnya menderita beliau ikut menangis dan tidak membedakan umatnya yang berbeda suku budaya maupun keturunan.
- Nabi Muhammad mempunyai kemampuan komunikasi yang luar biasa, beliau bisa menyampaikan pesan-pesan yang dapat diterima dan dimengerti oleh semua lapisan masyarakat.[23]
Selain itu kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin umatnya hingga menjadi masyarakat yang madani atau masyarakat yang sejahtera karena peraturan dan hukumnya ditegakkan secara tegas dan adil. Dan kepemimpinan Nabi Muhammad tidak terlepas dari tiga hal yaitu:
- Nabi Muhammad merupakan pemimpin yang holistic dimana beliau dapat mengembangkan leadership dalam berbagai bidang kehidupan termasuk kepemimpinanya dapat meresap keberbagai nuansa kehidupan. Dan dari segi hukum, beliau menjunjung tinggi keadilan tanpa pandang bulu. Dan dari segi strategi pertahanan beliau memenangkan peperangan dan keselamatan masyarakatnya diutamakan.
- Nabi Muhammad merupakan pemimpin yang accepted yang dimana kepemimpinannya diterima dan diakui oleh semua kalangan masyarakatnya sampai saat ini.
- Nabi Muhammad merupakan pemimpin yang proven yang dimana membawa perubahan bagi masyarakatnya untuk berorientasi kedepan dan kepemimpinannya masih relevan sampai saat ini.[24]
- Implementasi Prinsip Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam Kepemimpinan masa Kini
- Nabi Muhammad merupakan pemimpin yang accepted yang dimana kepemimpinannya diterima dan diakui oleh semua kalangan masyarakatnya sampai saat ini.
Pada masa kini krisis kepemimpinan menjadi persoalan global yang semakin mengkhawatirkan. Dari penelitian Edelman Trust Barometer (2023) sebanyak dari 40% masyarakat yang mempercayai pemimpinnya, sementara Transparency International (2022) indeks presepsi korupsi di negara-negara mayoritas muslim masih tergolong rendah dengan rata-rata skor 33 dari 100. Oleh karena itu bagi pemimpin masa kini dapat mengimplementasikan prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang relevan sepanjang masa dan dapat membuktikan bahwa prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad tidak hanya membentuk karakter personal tapi juga membangun budaya organisasi yang etis, produktif dan inovatif.[25]
Berikut uraian implementasi prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad bagi pemimpin masa kini bukan hanya untuk meningkatkan manajemen kinerja yang efektif, tetapi juga membangun lingkungan kerja yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan:
- Shiddiq
Nabi Muhammad SAW berhasil menjadi pemimpin yang dipercaya oleh rakyatnya berkat integritas dan keejujurannya dalam perkataan dan perbuatannya yang selalu konsisten. Dan hal ini dapat menjadi solusi permasalahan saat ini yaitu maraknya tindak korupsi. Yang artinya bagi pemimpin dalam institusi pemerintah harus menjalankan sistem pemerintahan dengan jujur sehingga tidak merusak kepercayaan lembaga maupun masyarakat, karena pemimpin yang memiliki sifat shiddiq mampu mempertanggungjawabkan semua tugas-tugasnya, baik kepada Allah maupun kepada masyarakat dan pribadinya sendiri.
- Amanah
Kata Amanah memiliki akar kata yang sama dengan “iman” yang berarti keamanan dan ketentraman. Dan dalam pemerintahan, pemimpin harus memiliki sifat yang amanah yaitu pemimpin yang menciptakan keamanan dan ketentraman bagi masyarakatnya melalui program pemerintahan yang dapat dipercaya. Pemimpin yang amanah dapat dilihat dari dua bentuk perilaku: a) ucapan pemimpin yang jujur sesuai data dan fakta sehingga dapat melahirkan sifat terpercaya dan dipercaya, b) tindakan pemimpin yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Maka pemimpin yang memiliki transparansi, akuntabilitas, dan akseptabilitas adalah ciri pemimpin amanah.[26]
- Tabligh
Dalam kepemimpinan masa kini tabligh dapat disebut komunikatif dalam menyampaikan suatu fakta dengan kebenaran dan mempunya kemampuan berkomunikasi dengan baik, sopan, dan jelas, serta dapat membangun hubungan positif dengan seluruh elemen masyarakat. Pemimpin yang komunikatif dapat menyampaikan visi dan misi serta kebijakan dengan jelas sehingga tidak menimbulkan kesalafahaman. Pemimpin juga harus dapat mendengarkan masukan, saran, dan kritik dari masyarakat untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
- Fathonah
Seorang pemimpin harus cerdas dan bijak untuk menentukan arah negara ini menjadi lebih maju, serta bijak dalam memberikan keputusan terhadap suatu masalah dan memahami persoalan dari berbagai sisi. Dan tidak hanya pemimpin saja yang harus memiliki kecerdasan serta kebijaksanaan, tetapi juga manusia harus mampu menggunakan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan spiritual dengan benar.[27]
- PENUTUP
simpulan
Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan, kepemimpinan adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mengajak, mendorong, membimbing, menggerakkan dan mempengaruhi agar dapat melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam Islam kepemimpinan memiliki landasan yang kuat dengan konsep imamah dan ri’ayah. Ini bukan hanya sebuah konsep atau sekedar posisi administratif, tapi juga bentuk pertanggungjawaban seorang pemimpin pada Allah dan komunitas yang dipimpin. Dalam hal ini sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin menurut islam harus menyeluruh dan berlandaskan pada prinsip-prinsip iman, keadilan, serta tanggung jawab.
Dalam menjalankan kepemimpinan Rasulullah mempunyai prinsip yang dilandasi oleh sifat wajib Nabi Muhammad SAW yaitu: shiddiq (integritas dan kejujuran) Shiddiq berarti integritas atau kejujuran. Beliau dikenal sebagai sosok yang selalu berkata benar dan menjunjung integritas. Dan karena kejujuran ini Rasulullah dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya, Amanah (dapat dipercaya) Amanah berarti dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Hal ini dapat dibuktikan dengan Nabi Muhammad SAW yang mendukung dalam menyebarluaskan risalah yang diamanahkan kepadanya oleh Allah SWT, Tabligh berarti menyampaikan atau komunikatif. Hal ini dapat dibuktikan dengan penyampaian wahyu dan pesan Allah kepada umat melalui Nabi Muhammad secara tepat, Fathonah berarti kecerdasan atau kebijaksanaan. Hal ini dapat dilihat dari Nabi Muhammad Saw yang dapat menyelesaikan masalah yang rumit dengan solusi yang tepat dan bijaksana dalam mengelola umatnya, melawan musuh, dan merumuskan strategi.
Nabi Muhammad SAW yang relevan sepanjang masa dan dapat membuktikan bahwa prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad tidak hanya membentuk karakter personal tapi juga membangun budaya organisasi yang etis, produktif dan inovatif. implementasi prinsip kepemimpinan Nabi Muhammad bagi pemimpin masa kini bukan hanya untuk meningkatkan manajemen kinerja yang efektif, tetapi juga membangun lingkungan kerja yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
- DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Muhammad Rizki, Akhmad Alim, Ulil Amri Syafri, Santi Lisnawati, Nesia Andriana, and Muflikhun. “Karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW berbasis sifat kenabian.” Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education 7, no. 6 (2026): 33–42. https://doi.org/10.32832/itjmie.v7i6.23810.
Asyibli, Basri, Saad Al Faqih, M. Arie Firdaus Heriansyah, Machdum Bachtiar, and Eneng Muslihah. “KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN PROFETIK NABI MUHAMMAD: TINJAUAN LITERATUR TENTANG MODEL INSPIRATIF DALAM MEMBANGUN GENERASI BERAKHLAK DAN BERILMU.” Jurnal Kepemimpinan Dan Pengurusan Sekolah 10, no. 3 (2025): 1357–69. https://doi.org/10.34125/jkps.v10i3.885.
Baskara, Renaldi Habib, Imam Sopingi, and Athi’ Hidayati. “Implementasi Nilai Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Dalam Pendidikan Islam: Kajian Kitab Nūrul Mubīn.” Ahdāf: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 2 (2025): 87–101. https://doi.org/10.47766/ahdf.v3i2.6119.
Batubara, Agung Arif Hakim, Cindy Salsabila Ginting, Murni Amalia, Mutiara Ramadhan Nasution, and Syahbudin Syahbudin. “Etika Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam: Teladan Nabi Sebagai Fondasi Integritas Pemimpin Modern.” EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 5, no. 2 (2025): 826–33. https://doi.org/10.56832/edu.v5i2.1369.
Batubara, Nurul Fatma Hidayah, Syafrida Hannum, Siti Suraya Lubis, and Ahmad Sofhan. “Karakter Kepemimpinan Rasulullah Saw Sebagai Model Bagi Pemimpin Muslim Masa Kini.” Educazione: Jurnal Multidisiplin 1, no. 2 (2025): 74–83. https://doi.org/10.37985/educazione.v1i2.15.
Faujiah, Hikmatul, Eneng Muslihah, and Shobri Shobri. Model Kepemimpinan Profetik (Nabi Muhammad Saw) Dan Implementasinya Di Pondok Pesantren Miftahunnajah Lamongan Serang | JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. n.d. Accessed August 27, 2026. http://jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/view/3466.
Febriana, Winda, Dona Nengsih, Asmendri Asmendri, and Milya Sari. Meneladani Gaya Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW Dalam Pendidikan Islam | Jurnal Inovasi, Evaluasi Dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP). n.d. Accessed August 27, 2026. https://journal.ainarapress.org/index.php/jiepp/article/view/441.
Fitriani, Fitriani, Didin Hafidhuddin, Adian Husaini, and Endin Mujahidin. “Konsep pendidikan karakter kepemimpinan profetik dan implementasinya di Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Fikri.” Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam 11, no. 4 (2022): 505–17. https://doi.org/10.32832/tadibuna.v11i4.8268.
Hamdi.R, Khairul, and George Soros Setiawan Day. “Prinsip-Prinsip Dasar Tata Kelola Negara Dalam Islam Dan Relevansinya Dengan Praktik Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik.” MADANIA: Jurnal Hukum Pidana Dan Ketatanegaraan Islam 14, no. 2 (2024): 39–48.
Kartika, Ika, Noerlitasari, Ade Maulana Saputra, et al. “Integrasi Nilai-Nilai Islam Dalam Kepemimpinan Pendidikan.” At-Tadris: Journal of Islamic Education 4, no. 2 (2025): 315–24. https://doi.org/10.56672/vf6x5n20.
Kuswadi, Aly. “Nilai-Nilai Edukatif Dalam Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.” Jurnal Al-Hikmah 1, no. 1 (2020): 25–39.
Manzil, Kunzita Ladiana, and M. Imamul Muttaqin. “Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam (Pengertian, Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah, Karakteristik Kepemimpinan Pendidikan Islam, Dan Keberhasilannya).” Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa 1, no. 7 (2024): 734–43. https://doi.org/10.59837/jpnmb.v1i7.140.
Muhibah, Siti. “MENELADANI GAYA KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW (Upaya Menegakkan Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama).” Jurnal Pendidikan Karakter “JAWARA” (JPKJ) 4, no. 1 (2018): 67–74.
Nur’Aini, Hesti Eka Tri, Menik Puji Rahayu, and Mohamad Djasuli. “Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam Prinsip Good Corporate Governance.” JURNAL EKONOMI, MANAJEMEN, BISNIS, DAN SOSIAL (EMBISS) 3, no. 1 (2022): 85–91.
Prayogi, Endar Evta Yuda, Hardika Saputra, and Rachmat Panca Putera. “Implementasi Nilai-Nilai Kepemimpinan Rasulullah Dalam Kepemimpinan Pendidikan Islam Di Era Digital.” Reflection : Islamic Education Journal 1, no. 4 (2024): 51–65. https://doi.org/10.61132/reflection.v1i4.162.
Rahma, Fatimah Nur, Jaka Andika, Tia Natifa, and Ulfa Aqilia Farhani. “Penerapan Kepemimpinan Nabi Muhammad Pada Pendidikan Islam.” PANDAWA 4, no. 1 (2022): 141–53. https://doi.org/10.36088/pandawa.v4i1.1577.
Rahmah, Nur Aisah, and Ahmadi Ahmadi. “MENELADANI KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW : MENJADI PEMIMPIN YANG RESPONSIBLE.” JURNAL ILMIAH NUSANTARA 2, no. 4 (2025): 291–98. https://doi.org/10.61722/jinu.v2i4.5051.
Sariroh, Alif Robbiatul, Fiantika Rohmatun Nazilah, and Moh Faizin. “KONSEP KEPEMIMPINAN IDEAL DALAM BINGKAI PANCASILA DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PERSPEKTIF RASULULLAH.” Jurnal Pembumian Pancasila 5, no. 2 (2025): 73–82. https://doi.org/10.63758/jpp.v5i2.66.
Sayfulloh, Usman Hamid, Afrizal Afrizal, and Sawaludin Sawaludin. “KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI KEPALA NEGARA: FONDASI KEPEMIMPINAN DAN PEMERINTAHAN ISLAMI.” CONSTITUO : Jurnal Riset Hukum Kenegaraan Dan Politik 3, no. 2 (2024): 79–97. https://doi.org/10.47498/constituo.v3i2.3598.
Solehudin, Ilin, Andri Nurjaman, and Nurul Alamin. “EMPAT PILAR DASAR DALAM MEWUJUDKAN PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERKUALITAS PERSPEKTIF ISLAM.” Jurnal Analisa Pemikiran Insan Cendikia (APIC) 6, no. 2 (2023): 100–113.
Yunus, Badruzzaman M., and Bambang Qomaruzzaman. “Meneladani Nabi Muhammad Dan Pengaruhnya Terhadap Servant-Leadership Dan Perilaku Khidmat.” Kontekstualita 33, no. 02 (2018): 191–219. https://doi.org/10.30631/kontekstualita.v33i02.55.
[1] Fatimah Nur Rahma et al., “Penerapan Kepemimpinan Nabi Muhammad Pada Pendidikan Islam,” PANDAWA 4, no. 1 (2022): 141–53, https://doi.org/10.36088/pandawa.v4i1.1577.
[2] Usman Hamid Sayfulloh et al., “KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI KEPALA NEGARA: FONDASI KEPEMIMPINAN DAN PEMERINTAHAN ISLAMI,” CONSTITUO : Jurnal Riset Hukum Kenegaraan Dan Politik 3, no. 2 (2024): 79–97, https://doi.org/10.47498/constituo.v3i2.3598.
[3] Hesti Eka Tri Nur’Aini et al., “Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam Prinsip Good Corporate Governance,” JURNAL EKONOMI, MANAJEMEN, BISNIS, DAN SOSIAL (EMBISS) 3, no. 1 (2022): 85–91.
[4] Agung Arif Hakim Batubara et al., “Etika Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam: Teladan Nabi Sebagai Fondasi Integritas Pemimpin Modern,” EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 5, no. 2 (2025): 826–33, https://doi.org/10.56832/edu.v5i2.1369.
[5] Siti Muhibah, “MENELADANI GAYA KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW (Upaya Menegakkan Nilai-Nilai Toleransi Antar Umat Beragama),” Jurnal Pendidikan Karakter “JAWARA” (JPKJ) 4, no. 1 (2018): 67–74.
[6] Nur Aisah Rahmah and Ahmadi Ahmadi, “MENELADANI KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW : MENJADI PEMIMPIN YANG RESPONSIBLE,” JURNAL ILMIAH NUSANTARA 2, no. 4 (2025): 291–98, https://doi.org/10.61722/jinu.v2i4.5051.
[7] Renaldi Habib Baskara et al., “Implementasi Nilai Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Dalam Pendidikan Islam: Kajian Kitab Nūrul Mubīn,” Ahdāf: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 2 (2025): 87–101, https://doi.org/10.47766/ahdf.v3i2.6119.
[8] Sayfulloh et al., “KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI KEPALA NEGARA.”
[9] Muhammad Rizki Akbar et al., “Karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW berbasis sifat kenabian,” Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education 7, no. 6 (2026): 33–42, https://doi.org/10.32832/itjmie.v7i6.23810.
[10] Badruzzaman M. Yunus and Bambang Qomaruzzaman, “Meneladani Nabi Muhammad Dan Pengaruhnya Terhadap Servant-Leadership Dan Perilaku Khidmat,” Kontekstualita 33, no. 02 (2018): 191–219, https://doi.org/10.30631/kontekstualita.v33i02.55.
[11] Nurul Fatma Hidayah Batubara et al., “Karakter Kepemimpinan Rasulullah Saw Sebagai Model Bagi Pemimpin Muslim Masa Kini,” Educazione: Jurnal Multidisiplin 1, no. 2 (2025): 74–83, https://doi.org/10.37985/educazione.v1i2.15.
[12] Fitriani Fitriani et al., “Konsep pendidikan karakter kepemimpinan profetik dan implementasinya di Sekolah Dasar Islam Terpadu Nurul Fikri,” Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam 11, no. 4 (2022): 505–17, https://doi.org/10.32832/tadibuna.v11i4.8268.
[13] Ika Kartika et al., “Integrasi Nilai-Nilai Islam Dalam Kepemimpinan Pendidikan,” At-Tadris: Journal of Islamic Education 4, no. 2 (2025): 315–24, https://doi.org/10.56672/vf6x5n20.
[14] Nur’Aini et al., “Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dalam Prinsip Good Corporate Governance.”
[15] Endar Evta Yuda Prayogi et al., “Implementasi Nilai-Nilai Kepemimpinan Rasulullah Dalam Kepemimpinan Pendidikan Islam Di Era Digital,” Reflection : Islamic Education Journal 1, no. 4 (2024): 51–65, https://doi.org/10.61132/reflection.v1i4.162.
[16] Rahmah and Ahmadi, “MENELADANI KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW.”
[17] Khairul Hamdi.R and George Soros Setiawan Day, “Prinsip-Prinsip Dasar Tata Kelola Negara Dalam Islam Dan Relevansinya Dengan Praktik Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik,” MADANIA: Jurnal Hukum Pidana Dan Ketatanegaraan Islam 14, no. 2 (2024): 39–48.
[18] Kunzita Ladiana Manzil and M. Imamul Muttaqin, “Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam (Pengertian, Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah, Karakteristik Kepemimpinan Pendidikan Islam, Dan Keberhasilannya),” Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa 1, no. 7 (2024): 734–43, https://doi.org/10.59837/jpnmb.v1i7.140.
[19] Winda Febriana et al., Meneladani Gaya Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW Dalam Pendidikan Islam | Jurnal Inovasi, Evaluasi Dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP), n.d., accessed August 27, 2026, https://journal.ainarapress.org/index.php/jiepp/article/view/441.
[20] Hikmatul Faujiah et al., Model Kepemimpinan Profetik (Nabi Muhammad Saw) Dan Implementasinya Di Pondok Pesantren Miftahunnajah Lamongan Serang | JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, n.d., accessed August 27, 2026, http://jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/view/3466.
[21] Basri Asyibli et al., “KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN PROFETIK NABI MUHAMMAD: TINJAUAN LITERATUR TENTANG MODEL INSPIRATIF DALAM MEMBANGUN GENERASI BERAKHLAK DAN BERILMU,” Jurnal Kepemimpinan Dan Pengurusan Sekolah 10, no. 3 (2025): 1357–69, https://doi.org/10.34125/jkps.v10i3.885.
[22] Akbar et al., “Karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW berbasis sifat kenabian.”
[23] Batubara et al., “Karakter Kepemimpinan Rasulullah Saw Sebagai Model Bagi Pemimpin Muslim Masa Kini.”
[24] Aly Kuswadi, “Nilai-Nilai Edukatif Dalam Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW,” Jurnal Al-Hikmah 1, no. 1 (2020): 25–39.
[25] Akbar et al., “Karakter kepemimpinan Nabi Muhammad SAW berbasis sifat kenabian.”
[26] Ilin Solehudin et al., “EMPAT PILAR DASAR DALAM MEWUJUDKAN PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERKUALITAS PERSPEKTIF ISLAM,” Jurnal Analisa Pemikiran Insan Cendikia (APIC) 6, no. 2 (2023): 100–113.
[27] Alif Robbiatul Sariroh et al., “KONSEP KEPEMIMPINAN IDEAL DALAM BINGKAI PANCASILA DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PERSPEKTIF RASULULLAH,” Jurnal Pembumian Pancasila 5, no. 2 (2025): 73–82, https://doi.org/10.63758/jpp.v5i2.66.
