Nazwa Rayya 1, Nabila Renza 2Lailatul Mardhiyah3,
1,2,3,4 Sekolah Tinggi Islam Al Amanah Sidoarjo
nabilaaurarelya@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach dalam pengembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Krian, Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan studi kasus. Data dan pembahasan diarahkan pada latar belakang pendirian pesantren, karakter kepemimpinan, serta kontribusi KH. Nurcholis Misbach terhadap perkembangan kelembagaan Al-Amanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH. Nurcholis Misbach merupakan tokoh sentral dalam pendirian dan pengembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah sejak tahun 1992. Kepemimpinannya menunjukkan karakter visioner, transformatif, dan adaptif. Karakter visioner terlihat dari keberaniannya membangun pesantren dengan konsep pendidikan modern dan mengembangkan lembaga secara berkelanjutan. Kepemimpinan tersebut diwujudkan melalui pengembangan pendidikan formal, pendidikan bilingual, serta berbagai program khusus seperti sanggar sebagai wadah pengembangan potensi santri. Dengan demikian, kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan Al-Amanah sebagai lembaga pendidikan pesantren yang mampu mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan sekaligus merespons perkembangan zaman.
Kata Kunci: Kepemimpinan Kiai; Pesantren Modern; KH. Nurcholis Misbach; Al-Amanah; Pendidikan Pesantren
Abstract
This study aims to analyze the leadership of KH. Nurcholis Misbach in the development of Al-Amanah Modern Islamic Boarding School in Junwangi, Krian, Sidoarjo. This research employed a qualitative method using a figure study and case study approach. The study focuses on the background of the establishment of the boarding school, the characteristics of leadership, and the contribution of KH. Nurcholis Misbach to the institutional development of Al-Amanah. The findings indicate that KH. Nurcholis Misbach is a central figure in establishing and developing Al-Amanah Modern Islamic Boarding School since 1992. His leadership demonstrates visionary, transformative, and adaptive characteristics. His visionary leadership is reflected in his initiative to establish a modern Islamic boarding school and continuously develop its educational institutions. His transformative leadership can be seen in his ability to develop the institution from a simple educational activity into an educational institution with various levels. Meanwhile, his adaptive leadership is demonstrated by his openness to learning from various Islamic boarding schools before determining an educational model suitable for the characteristics of Al-Amanah. This leadership is manifested through the development of formal education, bilingual education, and various special programs, including sanggar, which serve as platforms for developing students’ potential. Therefore, the leadership of KH. Nurcholis Misbach has become an important factor in developing Al-Amanah as an Islamic boarding school that maintains pesantren values while responding to contemporary educational developments.
Keywords : Kiai Leadership; Modern Islamic Boarding School; KH. Nurcholis Misbach; Al-Amanah; Islamic Education
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki posisi penting dalam perkembangan pendidikan dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Indonesia. Sebagaimana menurut Zamakhasyari Dhofier dalam Syaifuddien tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk memperoleh kekuasaan, kekayaan, atau kemuliaan duniawi. Sebaliknya, mereka diajarkan bahwa belajar adalah sebuah kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan[1]. Oleh karena itu, sebagai institusi pendidikan, pesantren memiliki peran yang signifikan dalam membangun karakter para santri.
Dalam Perkembangannya, Pesantren harus mampu mempertahankan nilai-nilai tradisional sambil beradaptasi dengan perubahan sosial, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kebutuhan pendidikan kontemporer. Kemampuan pesantren untuk mengatasi perubahan ini bergantung pada peran kepemimpinan kiai, yang sangat penting dalam kehidupan pesantren[2]. Kiai di pesantren memiliki peran penting dalam perkembangan pesantren dari segala aspek.
Kiai dalam tradisi pesantren memiliki kedudukan yang sangat strategis. Kiai tidak hanya berperan sebagai pengasuh dan pendidik, tetapi juga sebagai pemimpin yang menentukan arah perkembangan lembaga. Kepemimpinan kiai memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan pesantren, mulai dari pendidikan, pembinaan santri, pengelolaan kelembagaan, hingga hubungan pesantren dengan masyarakat. Penelitian Imas Muslimah menunjukkan bahwa kiai memiliki posisi penting dalam pengendalian manajerial pesantren, di samping perannya sebagai pendidik dan pembimbing keagamaan[3]. Dalam konteks Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, peran Kiai tidak hanya berperan sebagai pengasuh dan pendidik, tetapi juga sebagai pemimpin yang menentukan arah perkembangan lembaga pondok. Kepemimpinan kiai memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan pesantren, mulai dari pendidikan, pembinaan santri, pengelolaan kelembagaan, hingga hubungan pesantren dengan masyarakat. Oleh karena itu,
perkembangan suatu pesantren sering kali memiliki hubungan yang erat dengan pola kepemimpinan kiai yang mengelolanya. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan kiai dalam pesantren modern dapat menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan dan perkembangan lembaga suatu pondok.
Salah satu pesantren yang menarik untuk dikaji dalam konteks tersebut adalah Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Krian, Sidoarjo. Pesantren ini didirikan oleh KH. Nurcholis Misbach bersama Nyai Hj. Rifa’atul Mahmudah pada tahun 1992. Sejarah awal berdirinya Al-Amanah menunjukkan bahwa pesantren tersebut dirintis dari kondisi yang sederhana. Kegiatan pendidikan pada awalnya dilakukan dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungan sekitar. Seiring bertambahnya jumlah santri, kegiatan tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan pesantren yang memiliki tempat tinggal dan sistem pendidikan yang lebih terorganisasi.[1] Di Pondok Pesantern Modern Al Amanah sendiri sudah memiliki lembaga pendidikan dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi, yaitu: TK Kupu-Kupu, SD Antawirya, SMP Bilingual Terpadu 1, SMP Bilingual Terpadu 2, MA Bilingual Al Amanah, Sekolah Tinggi Islam Al Amanah. Bahkan lulusan – lulusan lembaga tersebut banyak yang melanjutkan pendidikan sampai ke luar negeri.
Menariknya, sejak awal pendiriannya KH. Nurcholis Misbach telah memiliki gagasan untuk membangun pesantren dengan karakter modern. Berdasarkan kajian historis mengenai Al-Amanah, KH. Nurcholis Misbach melakukan kunjungan ke berbagai pesantren untuk menentukan bentuk lembaga yang akan dikembangkan. Dari proses tersebut, beliau memilih Konsep pesantren modern didefinisikan sebagai pesantren yang memiliki pola pikir terbuka dan mampu menerima perkembangan serta hal-hal baru. Keputusan ini menunjukkan bahwa visi kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach tidak hanya berfokus pada mempertahankan tradisi pesantren tetapi juga pada upaya menyiapkan lembaga agar mampu menghadapi perkembangan zaman.
Berdasarkan uraian tersebut, kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji karena keberhasilannya merintis pesantren dari kondisi sederhana hingga berkembang menjadi lembaga pendidikan modern menunjukkan adanya proses kepemimpinan yang memiliki karakter tertentu. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pola kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach, serta kontribusinya terhadap perkembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi. Dengan demikian, penelitian ini mengambil judul “Kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach dalam Pengembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi.”
A. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh dan studi kasus. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach dalam mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi. Penelitian tidak berfokus pada pengukuran angka, tetapi pada penggalian informasi mengenai pola kepemimpinan, serta nilai-nilai yang diterapkan oleh KH. Nurcholis Misbach dalam mengelola pesantren.
Pendekatan studi tokoh digunakan untuk mengkaji KH. Nurcholis Misbach sebagai figur sentral dalam sejarah dan perkembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah. Kajian diarahkan pada latar belakang pendirian pesantren, karakter kepemimpinan, pola pengambilan keputusan, hubungan pemimpin dengan pengurus dan tenaga pendidik, serta kontribusi kepemimpinannya terhadap perkembangan pesantren. Sementara itu, pendekatan studi kasus digunakan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai praktik kepemimpinan tersebut dalam konteks Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi.
Lokasi penelitian adalah Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa pesantren tersebut merupakan lembaga yang didirikan dan dikembangkan oleh KH. Nurcholis Misbach sejak tahun 1992. Perkembangan Al-Amanah dari lembaga pendidikan yang dirintis secara sederhana menjadi pesantren modern dengan berbagai jenjang pendidikan menjadikan lembaga ini relevan sebagai lokasi penelitian mengenai kepemimpinan kiai.
B. HASIL DAN PEMBAHASAN
Biografi KH. Nurcholis Misabach KH. Nurcholis Misbach merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, Krian, Sidoarjo. Beliau mendirikan pesantren bersama istrinya, Nyai Hj. Rifa’atul Mahmudah. Pondok Pesantren Modern Al-Amanah secara resmi berdiri pada tahun 1992. Berdasarkan penelitian, pendirian pesantren tersebut berawal dari kegiatan sederhana di sebuah rumah kontrakan. KH. Nurcholis Misbach bersama istrinya mulai menerima beberapa anak tetangga, khususnya santri putri, untuk belajar membaca Al-Qur’an. Seiring bertambahnya jumlah anak yang belajar, muncul kebutuhan untuk menyediakan tempat pendidikan dan asrama yang lebih memadai.[1]
Perintisan pesantren tersebut berlangsung dalam kondisi ekonomi yang terbatas. KH. Nurcholis Misbach tidak memulai pesantren dengan dukungan modal materi yang besar maupun latar belakang keluarga kiai. Dalam keterangannya yang dimuat oleh NU Online Jawa Timur, beliau menyebut bahwa modal utama dalam mendirikan Pesantren Modern Al-Amanah adalah “keyakinan”. Keyakinan tersebut menjadi dorongan bagi beliau untuk tetap menjalankan cita-cita mendirikan pesantren meskipun pada awalnya terdapat pihak-pihak yang meragukan kemampuannya.²
Keterbatasan tersebut tidak menghalangi KH. Nurcholis Misbah untuk mengembangkan pesantren. Ia justru menjadikannya sebagai dorongan untuk mencari berbagai alternatif dan melakukan inovasi. Beliau melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren, di antaranya Pesantren Al-Falah Ploso, Lirboyo, dan Gontor, untuk memperoleh gagasan mengenai model pesantren yang akan dikembangkan. Dari berbagai pengalaman tersebut kemudian muncul gagasan untuk membangun pesantren dengan karakter modern. Konsep modern yang dimaksud bukan sekadar penggunaan fasilitas modern, tetapi keterbukaan terhadap gagasan baru dan kemampuan menyesuaikan pendidikan pesantren dengan perkembangan zaman.[2]
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa KH. Nurcholis Misbah merupakan sosok yang memiliki orientasi kuat terhadap pengembangan pendidikan. Pesantren yang pada awalnya hanya memiliki fasilitas sederhana kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan dengan berbagai jenjang. Penelitian Umi Rosidah mencatat bahwa perkembangan pendidikan formal Al-Amanah antara lain ditandai dengan berdirinya Madrasah Aliyah Bilingual pada tahun 2002 dan SMP Bilingual Terpadu pada tahun 2007.[3] Perkembangan tersebut menunjukkan adanya kesinambungan antara visi pendiri dengan perkembangan kelembagaan pesantren. Dengan demikian, biografi KH. Nurcholis Misbah dalam konteks penelitian ini tidak hanya dipahami dari perjalanan hidupnya sebagai pendiri pesantren, tetapi terutama dari pengalaman, pemikiran, dan keputusan yang membentuk gaya kepemimpinannya. Latar belakang pendirian Al-Amanah memperlihatkan bahwa kepemimpinannya tumbuh dari keyakinan terhadap cita-cita, keberanian mengambil inisiatif, keterbukaan terhadap pengalaman dari lembaga lain, serta kemampuan mengembangkan gagasan menjadi sebuah lembaga pendidikan.
Gaya Kepemimpinan KH. Nur Cholis Misbah
Berdasarkan hasil penelusuran terhadap perjalanan pendirian dan perkembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi, gaya kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach menunjukkan karakter yang dapat dipahami sebagai kepemimpinan visioner dan transformatif. Hal tersebut terlihat dari kemampuannya membangun visi pendidikan yang tidak hanya mempertahankan tradisi kepesantrenan, tetapi juga mengintegrasikan unsur-unsur pendidikan modern. Sejak awal pendirian Al-Amanah, KH. Nurcholis Misbach telah memiliki gagasan untuk membangun pesantren yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Visi tersebut kemudian diwujudkan melalui pengembangan lembaga pendidikan dan berbagai program yang mendukung kebutuhan santri. Pada lembaga pendidikan di pesantren modern al amanah terdapat strategi pengembangan potensi santri melalui program khusus. Dalam situs resmi Pondok Pesantren Modern Al Amanah mencatat adanya beberapa program khusus seperti Sanggar Tahfizh Enterpreneur (STE), dan Sanggar Kutub At-Turats (SKT), dan bahkan untuk kelas regular pun tetap ada fokus yang menyesuaikan potensi setiap santri mulai dari Bahasa Internasional, Sains, dan Art pada jenjang SMP, Sanggar Sains Robotika (SSR), Sanggar Sosial & Komunikasi (SSK), dan Sanggar Bahasa Internasional (SBI) pada jenjang MA. Hal ini menandakan bahwa pesantren Al Amanah tidak hanya memberikan pendidikan kelas formal biasa, tetapi menyediakan program yang memungkinkan santri mengembangkan kemampuan tertentu secara lebih fokus.
Kepemimpinan visioner ditunjukkan melalui kemampuan seorang pemimpin dalam menetapkan arah dan tujuan organisasi serta menggerakkan anggota untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam konteks pesantren, kiai memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perubahan kelembagaan. Penelitian Abdul Wahid Hasyim menunjukkan bahwa proses modernisasi pesantren sangat berkaitan dengan kemampuan kepemimpinan kiai dalam mengombinasikan karisma kepemimpinan dengan manajemen modern. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kombinasi keduanya menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan modernisasi pesantren[1].
Karakter tersebut dapat ditemukan dalam kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach. Beliau tidak hanya mempertahankan sistem pendidikan pesantren yang telah ada, tetapi berusaha membangun lembaga yang memiliki orientasi pendidikan modern. Pilihan untuk mengembangkan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah menunjukkan adanya pandangan jangka panjang mengenai kebutuhan pendidikan santri. Dengan demikian, kepemimpinan beliau dapat dipahami sebagai kepemimpinan yang berorientasi pada visi dan perubahan kelembagaan.
Selain visioner, kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach juga menunjukkan karakter transformatif. Kepemimpinan transformatif ditandai dengan kemampuan pemimpin dalam memberikan inspirasi, membangun kesadaran bersama, mendorong perubahan, serta mengembangkan potensi anggota organisasi. Umiarso menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional kiai dalam pengembangan pesantren mencakup beberapa dimensi, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, individual consideration, serta kekuatan spiritual personal[2]. Dalam konteks KH. Nurcholis Misbach, karakter transformatif dapat dilihat dari kemampuannya mengubah sebuah kegiatan pendidikan yang pada awalnya sederhana menjadi lembaga pendidikan yang berkembang. Transformasi tersebut tidak berlangsung secara instan, tetapi melalui proses bertahap, mulai dari merintis kegiatan pendidikan, membangun sarana, mengembangkan sistem pendidikan, hingga memperluas lembaga pendidikan formal. Proses tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan beliau memiliki orientasi terhadap perubahan dan pengembangan lembaga.
Gaya kepemimpinan berikutnya adalah adaptif terhadap perkembangan zaman. KH. Nurcholis Misbach tidak memandang modernisasi sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan dengan nilai-nilai pesantren. Sebaliknya, modernisasi diposisikan sebagai sarana untuk memperkuat fungsi pendidikan pesantren. Sikap tersebut dapat dilihat dari upaya mengembangkan sistem pendidikan yang lebih modern dan terbuka terhadap berbagai gagasan pendidikan.
Penelitian Syaefuddin Ahrom Al Ayubbi mengenai kepemimpinan kiai dalam transformasi pendidikan pesantren menunjukkan bahwa kepemimpinan kiai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara tradisi keagamaan dan tuntutan perkembangan zaman. Pesantren dapat melakukan inovasi dalam pendidikan dan manajemen tanpa harus meninggalkan nilai dasar yang menjadi identitas pesantren[1].
Dalam konteks Al-Amanah, kemampuan adaptif KH. Nurcholis Misbach terlihat dari keberaniannya mempelajari model pendidikan dari berbagai pesantren sebelum menentukan bentuk pendidikan yang akan dikembangkan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa beliau merupakan pemimpin yang terbuka terhadap pembelajaran dan gagasan baru. Pemimpin tidak hanya mengandalkan pengalaman pribadi, tetapi juga mencari referensi dan pengalaman dari lembaga lain untuk kemudian disesuaikan dengan kebutuhan pesantren.
Sikap terbuka tersebut kemudian menjadi salah satu dasar berkembangnya karakter modern di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah. Gagasan yang diperoleh dari berbagai pesantren tidak diterapkan secara keseluruhan, tetapi dipilih dan dikembangkan sesuai dengan visi serta kondisi Al-Amanah. Dengan demikian, kemampuan adaptif KH. Nurcholis Misbach tidak hanya terlihat dari kesediaannya menerima perubahan, tetapi juga dari kemampuannya mengolah berbagai gagasan menjadi bentuk pendidikan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan lembaga.
Karakter adaptif tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach memiliki orientasi pada pengembangan dan pembaruan. Beliau memandang bahwa pesantren perlu mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan, tetapi pada saat yang sama harus mampu merespons perkembangan pendidikan dan kebutuhan masyarakat. Pola tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi berkembangnya berbagai program pendidikan di Al-Amanah, baik pendidikan formal maupun program khusus yang menjadi ciri khas pesantren.
C. PENUTUP
Keimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, KH. Nurcholis Misbach merupakan tokoh sentral dalam pendirian dan pengembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi. Pesantren yang dirintis pada tahun 1992 dari kondisi yang sederhana berkembang menjadi lembaga pendidikan dengan berbagai jenjang dan program. Proses tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Al-Amanah tidak terlepas dari visi pendirinya yang memiliki keyakinan kuat terhadap pentingnya pendidikan pesantren yang mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan tuntutan perkembangan zaman.
Gaya kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach dalam mengembangkan Al-Amanah menunjukkan karakter visioner dan adaptif. Orientasi visionernya terlihat dari keberanian membangun pesantren dengan konsep modern serta mengembangkan lembaga secara berkelanjutan. Sementara itu, kemampuan adaptif terlihat dari keterbukaan beliau dalam mempelajari berbagai model pendidikan dari sejumlah pesantren sebelum menentukan bentuk pendidikan yang sesuai dengan karakter Al-Amanah. Beliau tidak hanya mempertahankan pola pendidikan yang telah ada, tetapi mampu mengambil, menyesuaikan, dan mengembangkan berbagai gagasan baru sesuai dengan kebutuhan lembaga dan perkembangan masyarakat. Kepemimpinan tersebut kemudian tercermin dalam perkembangan kelembagaan Al-Amanah melalui penyelenggaraan pendidikan formal, penguatan pendidikan bilingual, serta berbagai program khusus seperti sanggar yang menjadi wadah pengembangan potensi santri. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach tidak hanya berorientasi pada keberlangsungan pesantren, tetapi juga pada pengembangan dan pembaruan lembaga secara berkelanjutan. Dengan demikian, kepemimpinan beliau dapat dipahami sebagai kepemimpinan yang menggabungkan visi pengembangan pesantren, keterbukaan terhadap gagasan baru, kemampuan beradaptasi, serta inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan, sehingga menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi diharapkan dapat terus mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan sekaligus meningkatkan inovasi pendidikan melalui pengembangan program-program unggulan, pendidikan bilingual, dan sanggar sebagai wadah pengembangan potensi santri. Keterbukaan terhadap gagasan baru dan kemampuan beradaptasi sebagaimana ditunjukkan dalam kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach perlu terus dilanjutkan oleh seluruh pengelola lembaga agar Al-Amanah tetap mampu menjawab perkembangan zaman. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dikembangkan dengan mengkaji secara lebih mendalam efektivitas program unggulan serta pengaruh kepemimpinan KH. Nurcholis Misbach terhadap perkembangan pendidikan, manajemen, dan karakter santri di Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi.
- DAFTAR PUSTAKA
Al Ayubbi, Syaefuddin Ahrom. “Kepemimpinan Kiai dalam Transformasi Pendidikan Pesantren di Era Disrupsi.” Journal of Social Movements 1, no. 2 (2024): 129–139. DOI: 10.62491/jsm.v1i2.2024.32.
Cahyadi, Rahmat Arofah Hari. “Pola Kepemimpinan di Pesantren.” Studia Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 5, no. 1 (2021): 15–28. DOI: 10.30651/sr.v5i1.8934.
Cahyadi, Rahmat Arofah Hari. “Pola Kepemimpinan di Pesantren.” Studia Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 5, no. 1 (2021): 15–28. DOI: 10.30651/sr.v5i1.8934.
Hasyim, Abdul Wahid. “Rethinking the Role of Kiai Leadership in Modernizing Pesantren in Cianjur, West Java.” MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman 44, no. 2 (2020): 283–312. DOI: 10.30821/miqot.v44i2.754.
Muslimah, Imas. “Kepemimpinan Kiyai Pondok Pesantren.” Jurnal Isema: Islamic Educational Management 1, no. 2 (2016). DOI: 10.15575/isema.v1i2.5180.
Nabilah Farah, Regina, dan Khizanatul Hikmah. “Imla’ Learning at the Integrated Bilingual Junior High School Junwangi Krian [Pembelajaran Imla’ di SMP Bilingual Terpadu Junwangi Krian].” Jurnal Bahasa Daerah Indonesia 1, no. 2 (2024). DOI: 10.47134/jbdi.v1i2.2468.
Rosidah, Umi. Pondok Pesantren Modern Al-Amanah di Junwangi Krian Sidoarjo: Tinjauan Historis dan Aktivitasnya dari Tahun 1992–2016 M. Skripsi. Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya, 2016.
Umiarso. “Kepemimpinan Transformasional Profetik dalam Mengembangkan Pesantren di Kabupaten Jember.” Akademika: Jurnal Pemikiran Islam 23, no. 1 (2018): 87–106. DOI: 10.32332/akademika.v23i1.1205.
Zuhriy, M. Syaifuddien. “Budaya Pesantren dan Pendidikan Karakter pada Pondok Pesantren Salaf.” Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 19, no. 2 (2011): 287–310. DOI: 10.21580/ws.19.2.159.
Ardiansyah, Boy. “KH Nurcholis Misbah Dirikan Pesantren Modern Al-Amanah dengan Modal Keyakinan.” NU Online Jatim, 14 Juli 2023.
Pondok Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi. “Lembaga-Lembaga dan Program Khusus di Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi.” 2023.
[1] Syaefuddin Ahrom Al Ayubbi, “Kepemimpinan Kiai dalam Transformasi Pendidikan Pesantren di Era Disrupsi,” Journal of Social Movements 1, no. 2 (2024)
[1] Abdul Wahid Hasyim, “Rethinking the Role of Kiai Leadership in Modernizing Pesantren in Cianjur, West Java,” MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman 44, no. 2 (2020)
[2] Umiarso, “Kepemimpinan Transformasional Profetik dalam Mengembangkan Pesantren di Kabupaten Jember,” Akademika: Jurnal Pemikiran Islam 23, no. 1 (2018)
[1] Umi Rosidah, Pondok Pesantren Modern Al-Amanah di Junwangi Krian Sidoarjo: Tinjauan Historis dan Aktivitasnya dari Tahun 1992–2016 M (Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2016).
[2]Boy Ardiansyah, “KH Nurcholis Misbah Dirikan Pesantren Modern Al-Amanah dengan Modal Keyakinan,” NU Online Jatim, 14 Juli 2023.
[3] Umi Rosidah, Pondok Pesantren Modern Al-Amanah di Junwangi Krian Sidoarjo
[1] Regina Nabilah, Khizanatul Hikmah. Imla’ Learning At The integrated bilingual junior high school junwangi krian
[1] Syaifuddien Zuhriy, “Budaya Pesantren dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf” , Walisongo.hal 288
[2] Rahmat Arofah Hari Cahyadi, “Pola Kepemimpinan di Pesantren,” Studia Religia: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 5, no. 1 (2021)
[3] Imas Muslimah, “Kepemimpinan Kiyai Pondok Pesantren,” Jurnal Isema: Islamic Educational Management 1, no. 2 (2016)
